JAKARTA - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, berbagai pertanyaan seputar tata cara puasa kembali mengemuka di tengah masyarakat. Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah mengenai batas akhir sahur yang sah menurut ajaran Islam.
Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan waktu makan sebelum berpuasa, tetapi juga berkaitan erat dengan keabsahan ibadah yang dijalankan sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Memahami batas sahur secara benar akan membantu umat Muslim menjalankan puasa dengan tenang tanpa dihantui keraguan.
Kebingungan biasanya muncul karena adanya dua istilah yang kerap digunakan bersamaan, yakni imsak dan Subuh. Sebagian orang mengira sahur harus dihentikan ketika waktu imsak tiba, padahal penjelasan syariat menunjukkan hal yang berbeda.
Dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadis, serta pandangan para ulama, batas sahur dapat dipahami secara lebih jernih sehingga ibadah puasa dilakukan sesuai tuntunan. Berikut penjelasan lengkap mengenai waktu sahur, makna imsak, keutamaan makan sahur, hingga keberkahan doa di waktu dini hari.
Batas Waktu Sahur Yang Sah Menurut Syariat Islam
Batas akhir sahur yang benar menurut syariat adalah saat masuknya waktu Subuh atau terbitnya fajar shadiq. Ketentuan ini dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an sebagai pedoman utama bagi umat Muslim. Ayat tersebut memberikan petunjuk jelas tentang kapan aktivitas makan dan minum harus dihentikan sebelum memulai puasa.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 disebutkan:
???????? ??????????? ??????? ??????????? ?????? ????????? ??????????? ???? ????????? ??????????? ???? ?????????
"...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar..."
Ayat ini menunjukkan bahwa batas sahur ditentukan oleh munculnya fajar yang menandai masuknya waktu salat Subuh. Penjelasan tersebut diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, "Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummu Maktum mengumandangkan adzan." Dalam riwayat lain disebutkan, "Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari.
Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum." Hadis-hadis ini menegaskan bahwa sahur berakhir ketika azan Subuh dikumandangkan, sekaligus menunjukkan anjuran untuk mengakhirkan sahur mendekati waktu tersebut.
Memahami Waktu Imsak Sebagai Penanda Kehati-Hatian
Di Indonesia, istilah imsak sering dipahami sebagai batas terakhir makan sahur. Padahal, secara konsep, imsak hanyalah penanda kehati-hatian bahwa waktu Subuh akan segera tiba. Kata imsak sendiri berarti menahan atau menjaga, sehingga fungsinya lebih sebagai pengingat agar seseorang bersiap menghentikan makan dan minum.
Secara praktik, waktu imsak biasanya ditetapkan sekitar sepuluh hingga lima belas menit sebelum azan Subuh. Penetapan ini merupakan hasil ijtihad ulama dan bukan batas sahur yang disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan jeda sekitar sepuluh menit sebelum Subuh, yang dikaitkan dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengenai jarak antara sahur Rasulullah SAW dan terbitnya fajar, diperkirakan setara dengan bacaan sekitar lima puluh ayat Al-Qur’an.
Karena itu, meskipun waktu imsak telah tiba, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga azan Subuh berkumandang. Tradisi bunyi sirene atau pengumuman dari masjid di berbagai daerah lebih merupakan bentuk peringatan agar umat Muslim tidak terlambat mengakhiri sahur, bukan penentu sah tidaknya puasa.
Keutamaan Makan Sahur Dan Keberkahan Yang Menyertainya
Sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum berpuasa, melainkan ibadah sunnah yang sarat keberkahan. Dalam buku Setetes Embun Hikmah Ramadhan dijelaskan bahwa makan sahur sangat dianjurkan meskipun hukumnya tidak wajib. Rasulullah SAW bersabda:
?????????? ???????? ????????? ????? ?????????? ?????? ???? ???????? ?????????? ???????? ???? ?????? ??????? ??????? ????? ??????? ??????????????? ?????????? ????? ?????????????????
"Makan sahur seluruhnya berkah, janganlah kalian meninggalkannya meskipun hanya minum seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur." (HR. Ahmad).
Anjuran ini menunjukkan bahwa nilai sahur tidak diukur dari banyaknya makanan, tetapi dari kesungguhan menjalankan sunnah. Bahkan jika tidak berselera makan, tetap dianjurkan bersahur walau hanya dengan air atau sebutir kurma.
Kurma disebut sebagai makanan terbaik untuk sahur, sebagaimana sabda Nabi, "Sebaik-baik makan sahur seorang Mukmin ialah kurma." Kandungan gula alaminya membantu menjaga energi tubuh sepanjang hari puasa.
Waktu Sahur Sebagai Momentum Doa Dan Pengampunan
Selain membawa manfaat fisik, waktu sahur merupakan saat yang penuh keberkahan spiritual. Pada waktu inilah doa-doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan dan ampunan Allah terbuka luas bagi hamba-Nya. Al-Qur’an memberikan pujian khusus kepada orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.
Dalam Surah Ali Imran ayat 15–17 disebutkan:
????????????? ??????????????? ??????????????? ???????????????? ???????????????????? ??????????????
"...dan orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun di waktu sahur."
Karena itu, waktu sahur sebaiknya tidak dihabiskan hanya untuk makan atau aktivitas yang kurang bermanfaat. Sisa waktu sebelum Subuh dapat digunakan untuk shalat malam, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, serta memanjatkan doa.
Momen sunyi di penghujung malam ini menjadi kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mempersiapkan hati menjalani puasa dengan penuh keikhlasan.
Memahami batas sahur, makna imsak, serta keutamaan waktu dini hari akan membantu umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan lebih yakin dan khusyuk. Dengan mengikuti tuntunan syariat secara benar, sahur tidak hanya menjadi rutinitas fisik, tetapi juga jalan meraih keberkahan spiritual sepanjang Ramadan.